Senin, 16 Februari 2009

FOTO-FOTO EKSKLUSIF PENINGGALAN NABI MUHAMMAD SAW


la kita berjauh jarak dengan sang terkasih Muhammad Rasulullah yang berbentang waktu 1.400 tahun… bila kita belum pernah melihat wajah sucinya, sementara kita menyebut namanya setiap hari, kita menghantarkan salam kepadanya setiap hari melalui shalat, shalawat-shalawat dan do’a-do’a yang kita lantunkan, kita memohon syafa’atnya untuk keselamatan kita di akhirat dari pedihnya azab neraka, tidakkah foto-foto berikut ini mengobati kerinduan kita yang sangat dalam kepada Sang Tercinta Nabi Agung, Kekasih Allah dan Sang pribadi mulia panutan alam?? Titik air mataku begitu melihat langsung baju beliau yang bersahaja dan sudah robek, sandal beliau, keranda beliau yang tak terhalang apapun. Allahu Akbar … serasa dekaaat denganmu ya Rasulullah … Andai aku bisa melihat wajahmu, rontok segala persendianku, tak tahan dengan kenikmatan memandang kemuliaan wajahmu… Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad ….

A

FOTO-FOTO INI SEMUA ADALAH KOLEKSI YANG TERSIMPAN DARI BERBAGAI TEMPAT DI BERBAGAI NEGARA: DI MUSIEUM PENINGGALAN NABI DI ISTAMBUL TURKI, DI YORDANIA, IRAK DAN NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH LAINNYA.

SELAMAT MERASAKAN KELEZATAN MENATAP PENINGGALAN-PENINGGALANNYA. SELAMAT BERURAI AIR MATA SEBAGAI TANDA CINTA DAN KERINDUAN KITA YANG TAK TERBENDUNG KEPADA SANG NABI AGUNG …

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam …

a

the-blessed-shirt-of-prophet-muhammad-saw

The Blessed Shirt of Prophet Muhammad SAW (Baju gamis Nabi SAW)

the-blessed-shirt1-of-prophet-muhammad-saw

The Blessed Shirt of Prophet Muhammad SAW (Bagian dari baju gamis Nabi SAW)

jubah-rasulullah1

Jubah Nabi Muhammad, Rasulullah SAW

blessed-seal-of-rasool-allah-saw1

The Blessed Seal of Rasulullah SAW

copy-of-the-blessed-bowl-of-prophet-muhammad-saw

Mangkuk tempat minum Rasulullah SAW

picture1.jpg

KUNCI KA’BAH ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

the-blessed-foot-print-of-rasool-allah-saw

jejak-kaki-nabi

JEJAK-JEJAK KAKI SANG NABI AGUNG, RASULULLAH SAW

a

blessed-hair-of-rasool-allahsaw

rambut-nabi

BEBERAPA HELAI RAMBUT NABI MUHAMMAD SAW

gigi-dan-rambut1

PENINGGALAN GIGI DAN RAMBUT NABI MUHAMMAD SAW (Itu giginya jelas ya?)

Wadah Kotak Gigi Rasulullah SAW

a

picture4.jpg

pedang2-nabi-dengan-nama-namanya1

pedang2-nabi-dengan-nama-namanya2

pedang2-nabi-dengan-nama-namanya

BERBAGAI PEDANG MILIK NABI SAW DENGAN NAMA-NAMANYA YANG DIPAKAI UNTUK MENEGAKKAN ISLAM, AGAMA ALLAH SWT DI MUKA BUMI.

a

Gagang Pedang “Hatf” Nabi SAW tampak lebih jelas

busur-panah-nabi

a

Busur Panah Nabi SAW

a

Bendera Rasululullah SAW

blessed-turbine1-of-prophet-muhammad-saw

Koleksi Sorban-sorban Nabi Muhammad SAW

blessed-turbine-of-prophet-muhammad-saw

Satu yang diperbesar (dari dekat)

a

Topi Besi Rasuluallah SAW

a

Baju dan barang-barang Rasulullah SAW


blessed-sandals2-of-rasool-allah-saw

blessed-sandal-of-rasool-allah-saw

blessed-sandal1-of-rasool-allah-saw1

Sandal-sandal peninggalan Rasulullah SAW tercinta …

letter-to-nijashi-king-of-habsha

Surat Nabi SAW kepada Raja Nijashi, Raja Habsyah

letter-to-omani-people

Surat Nabi SAW kepada rakyat Oman, Arab Selatan

letter-to-qaiser_e_rome

Surat Nabi SAW kepada Kaisar Romawi abad ke 7

a

Surat Rasulullah SAW pada Raja Heraclius

prophets-letter-to-muqauqas-egypt

Surat Nabi SAW kepada Raja Muqauqas, Mesir

a

Makan Siti Aminah, Ibunda Rasululllah SAW


box-belonging-to-hazrat-fatima-rz

Kotak milik putri tercinta Nabi SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra R.A.

a

picture6.jpg

PINTU EMAS MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

the-blessed-dust-from-the-tomb-of-the-prophet

The blessed dust from the tomb of the Prophet Muhammad PUBH (Butiran pasir yang diambil dari makam Nabi Muhammad SAW)

a

picture7.jpg

Keranda dan makam Nabi panutan alam, Nabi Muhammad SAW

Inilah makan Rasulullah SAW dari dalam. Di dalam inikah Sang Nabi Agung nan Mulia berbaring? Allahu Akbar … Makam raja saja, makan Sunan Sunan Gunung Djati saja, kita tidak bebas masuk dan melihatnya. Ini makam Rasulullah sang kekasih panutan umat manusia, Allaahu Akbar … Bila keranda ini disingkap dan kita bisa melihat tubuhnya yang suci berbaring, terbayangkah bagaimana kita menatap wajahnya?

kisah menarik menikah dengan jin muslimah cantik-berumur-200-tahun


Atas izinnya, saya menuliskannya untuk berbagi cerita dengan Anda yang mudah-mudahan bisa meningkatkan keimanan. Demi kenyamanannya, tentu saya tidak akan menyebutkan namanya (rahasia perusahaan dong!). Sebutlah namanya Ahmad. Ia seorang yang istimewa. Mudah keluar air matanya bila mengingat Allah dan merasakan hal-hal yang menyentuh hatinya, sering basah matanya dalam shalatnya, sudah tidak mencintai dunia (uang, materi dan selera). Bila pun punya uang, selalu bukan buat dirinya, tapi untuk orang lain yang lebih memerlukannnya. Hatinya bersih. Kuat tidak tidur dan tidak makan berhari-hari. Tidak takut oleh manusia, siapapun, bila menyangkut kebenaran yang ia bela. Ia orang yang tauhidnya terjaga dan sangat dekat dengan Allah SWT melebihi kaum Muslimin umumnya. Ia seorang mukasyafah sehingga biasa berdialog dengan ruh mursyidnya yang sudah meninggal. Tentu, kemampuannya luar biasa. Ia orang yang sudah sangat spiritual. Dalam cerita ini, semua nama yang saya sebutkan, bukan nama aslinya.

Ahmad sahabat saya ini, sudah hampir setahun, sejak mengalami kasyaf (tersibaknya alam ruhani atau tabir spiritual) biasa berdialog dengan gurunya bernama Syekh Habib Syarwani, yang sudah wafat 10 tahun yang lalu. Syekh Habib semasa hidupnya adalah seorang ulama hikmah, dikenal sebagai guru spiritual, seorang mukasyafah, seorang penasehat agama dan kebenaran yang terpercaya. Syekh Habib dipercaya sebagai wali dengan kehebatan karomah-keromahnya. Ia tidak mau meramal-ramal seperti dukun atau ahli hikmah lainnya. Tauhidnya lurus kepada Allah SWT. Semua kalangan dari orang biasa hingga orang-orang pentingnya mengakuinya sebagai guru, penasehat yang tajam, lurus dan menyentuh. Syekh Habib memiliki ilmu hikmah yang luar biasa.

Sejak Ahmad menjadi kasyaf, ruh gurunya terus membimbing hidupnya secara ruhani. Menurut Ahmad, suatu malam, ruh gurunya didampingi beberapa muridnya di alam sana, menawarinya sesuatu: “Ahmad, ini ada Jin Muslim diantara kita, namanya Syekh Maulawi. Ia berumur 400 tahun. Ia mempunyai putri namanya Fatimah, umurnya 200 tahun. Fatimah masih gadis. Syekh Maulawi tertarik padamu, pada keshalehanmu dan kekuatanmu dalam memeluk agama. Kami semua disini menawarkan padamu untuk menikahi Fatimah binti Maulawi. Bagaimana pendapatmu? Silahkan fikirkan dan pertimbangkan.”

Tentu Ahmad kaget luar biasa. “Menikah dengan jin?” Tidak pernah terbayang sedikitpun sebagai murid Syekh Habib Syarwani kemudian akan dinikahkan dengan jin. Ini sangat mengagetkan dan sama sekali baru mengalami tawaran seperti ini. Mendengar pun, pernikahan antar manusia dan jin, belum pernah. Mau menolak, ia sangat takzim pada Syekh sebagai gurunya lahir batin sejak hidupnya. Menyatakan mau juga tidak terbayang bagaimana jadinya dan nantinya. Dalam kebingungannya, ia mendesah:
“Menurut Syekh bagaimana?”
“Ini hanya tawaran. Bersedia syukur, tidak pun tidak apa-apa.”
“Menurut Islam bagaimana? Saya kan manusia.” Tanya Ahmad lagi ingin tahu bagaimana dari sudut hukum agama.
“Tidak ada larangan.” Jawab gurunya kalem.

Pikiran Ahmad masih terus diliputi kebingungan. Selama berbulan-bulan sejak ia bisa berdialog dengan gurunya tersebut secara ruhani, Ahmad sudah terbiasa melihat jin. Oleh jin-jin kafir yang buruk rupa, yang wajahnya semrawut, tidak beraturan, sering sekali menggoda perjalanannya agar niatnya menemui dan berguru kepada Syekh Syarwani mundur, batal dan tidak jadi. Ini adalah ujian beratnya. Ia harus mengalahkan godaan-godaan makhlus halus itu. Awalnya, kaget luar biasa dan sangat takut ketika ia mampu melihat sosok jin-jin itu. Ada yang menertawakan perjalannya sambil bergelantungan di sebuah pohon di tengah malam, ada yang menghalangi jalan kakinya, ada yang menumpangi motor yang dikendarainya di jok belakang, ada yang menebarkan bau busuk, ada yang menyerupai wanita cantik dan telanjang bulat mengajaknya bersetubuh, ada yang menirukan suara ibunya atau istrinya memanggil-manggilnya ketika sedang berjalan. Semua itu terjadi antara jam 11.30 malam hingga jam 04.00 subuh ketika ia sering berjalan kaki ke sebuah tempat pertemuan dengan gurunya.

Lama-kelamaan matanya jadi biasa dan tidak kaget melihat jin-jin penggoda itu. Mereka selalu muncul setiap malam di tengah perjalanan ketika Ahmad menemui gurunya di tempat tersebut. Mereka menggoda dan menakut-nakutinya. Oleh keyakinannya kepada Allah, Ahmad tidak takut bahkan semakin berani mengusirnya dan bahkan sering menantangnya untuk tarung karena kesal. Kebanyakan jin-jin penggoda itu kabur, mangpret, ngacir ketakutan setelah dibacakan ayat-ayat Qur’an seperti ayat kursi. Tetapi, bukan hanya jin kafir yang buruk-buruk rupa itu yang dia lihat. Sering juga jin-jin Muslim menyapanya. Mereka ini sosoknya lain. Tubuhnya ada yang wangi, bersih, tampan dan cantik, tapi ukurannya tinggi-tinggi dan besar-besar. Umurnya ratusan tahun. Ada yang sedang memegang tasbih berdzikir kepada Allah, ada yang sedang khusyu beribadah dan sebagainya. Melihat mereka, Ahmad sudah biasa. Tetapi, ditawari menikahi dengan jin yang berbeda jasad, beda dunia, beda alam, sama sekali tidak terbayangkan olehnya.

Akhirnya bakti dan hormat pada gurunya mengalahkan keraguan dirinya. Bagi Ahmad, Syekh Habib Syawani di alam ruh, atas izin Allah, masih mengajarkan ilmu dan telah membukakan kasyafnya, yang membuatnya bisa melihat dan berdialog langsung dengannya. Ahmad akhirnya menyatakan siap dengan hati bulat, ikhlas dan pasrah. Singkat cerita, proses pernikahan pun dilangsungkan. Disaksikan gurunya dan ruh-ruh yang hadir, dengan suasana sangat khidmat, Ahmad dinikahkan dengan Fatimah binti Maulawi, seorang gadis jin Muslimah, berumur 200 tahun. Mas kawinnya, cukup hanya membaca surat Al-Fatihah. Mertuanya bernama Syekh Maulawi adalah jin yang sangat dihormati di kalangan jin Muslim di alamnya. Resmilah mereka sebagai pasangan suami istri.

Bagaimana gambaran dan kesan Ahmad tentang Fatimah, istrinya di alam jin itu? Ia menceritakannya kepada saya. “Ia memakai kerudung dan masya Allah cantiknya luar biasa. Tubuhnya harum. Tingginya sekitar 4 meter. Setelah nikah, saya memangilnya ummi, dia memanggil abi. Sikapnya tawadhu luar biasa kepada suami, bahasanya santun, sifatnya halus dan kecantikannya belum pernah saya lihat pada manusia. Saya belum pernah melihat wajah secantik itu.”

Beberapa hari dari itu, Ahmad bercerita tentang bulan madunya. Walaupun tinggi Fatimah sekitar 4 meter, tapi ketika berfungsi sebagai istri dan menemui suaminya, ia merubah ukurannya menjadi ukuran manusia biasa, normal. Suatu saat, Ahmad memulai ceritanya, ia diajak Fatimah berjalan-jalan, berkeliling ke alamnya. Alam jin tidak jauh berbeda dengan alam manusia. Ada pengajian, ada sekolah, kampus, masjid dan bangunan-bangunan lain. Sama dengan manusia, mereka memiliki peradaban. Tapi, itu peradaban jin. Bedanya, bentuknya aneh-aneh, berbeda dengan di alam manusia. Ahmad sangat sadar alias bukan mimpi. Selama berkeliling, perasaannya dipenuhi aneh dan aneh, takjub dan takjub, heran dan heran atas apa yang dialaminya di alam yang berbeda. Akhirnya ia tiba di sebuah rumah, tentu rumahnya Fatimah. Tinggi, luas, bentuknya aneh, tidak seperti rumah yang ada di alam manusia. Kamar Fatimah harum dan bersih. “Barang-barang” tertata rapih. Di atas tempat tidur, mereka ngobrol dan bercumbu. Selain sangat cantik, tubuh Fatimah tercium harum dan bercahaya. Maklum ia jin yang taat ibadah. Singkatnya, aneh juga, Ahmad merasakan kepuasan persis seperti dengan manusia, bahkan lebih. Kata Ahmad, Fatimah tidak akan pernah hamil. Persenggamaan jin dan manusia tidak akan mengasilkan kehamilan, karena perbedaan zat makhluk. Manusia fisik, jin non fisik alias makhluk ghaib.

Sejak itu, kata Ahmad, Fatimah selalu datang dimana Ahmad memerlukannya. Ngobrol berdua dengan penuh santun dan etika sebagai istri yang shaleh, sun tangan, menunduk dan tidak pernah bersuara keras. Saling mengingatkan beribadah kepada Allah. Saling menasehati untuk sabar dalam menghadapi masalah masing-masing. Tidak ada suasana sedikit pun dari Fatimah mendominasi Ahmad dari istri aslinya yang manusia, yaitu istri pertamanya. Bahkan, dalam banyak kesempatan, Fatimah selalu mendorong Ahmad untuk harmonis dengan istrinya dan anak-anaknya, menyayangi dan memperhatikan keluarga. Kehadiran Fatimah, tidak sedikitpun menggangu keberadaan keluarga Ahmad karena tidak ada nafkah yang harus dikeluarkan, tidak ada waktu yang terambil. Nafkahnya paling do’a. Perhatiannya bukan bentuk fisik, tapi ruhani. Kemana Ahmad pergi, Fatimah bisa dipanggil dan datang, atau ia yang datang sendiri. Makanan Fatimah sebagai jin Muslim dan makhluk adalah saripati-saripati makanan. Pernikahan itu kini sudah berumur dua tahun lebih. Hingga sekarang tetap saja rukun dan damai. Ahmad merasa sangat bahagia, demikian juga Fatimah. Kepada istri pertamanya, Ahmad tidak pernah menceritakan peristiwa poligaminya ini karena tidak perlu dan tidak akan dimengertinya. Toh keluarga tidak terganggu sedikitpun. Ahmad dan Fatimah hingga saat ini, keduanya adalah murid Syekh Habib yang sampai sekarang sering hadir dalam pengajian yang berisi nasehat-nasehat gurunya tersebut, tentu pengajian secara ruhani, yang orang awam seperti kita tidak bisa melakukannya.

Penutup
Demikianlah, menikah dengan jin bisa terjadi, tapi bukan syari’at dan tidak dianjurkan oleh agama. Tidak perlu dicontoh, apalagi menikahnya dengan tujuan-tujuan sesat seperti dilakukan sebagian orang yang menginginkan kekayaan, kesaktian, kekebalan dll. Ahmad maupun Fatimah dalam peristiwa di atas, keduanya tidak menginginkan, merencanakan dan membayangkannya sama sekali. Ahmad bersedia karena ditawari gurunya, Fatimah karena tawaran Bapaknya, Syekh Habib Maulawi. Pernikahan mereka dilandasi agama dan tauhid kepada Allah SWT. Tidak ada kemusyrikan didalamnya, tidak atas dasar lain-lain. Itu takdir saja dari Allah SWT. Tanpa izin-Nya, segala sesuatu tidak akan terjadi.

Candi Borobudur Tak Lagi Masuk Dalam Tujuh Keajaiban Dunia

Metrotvnews.com, Lisabon: Candi Borobudur tak lagi masuk tujuh keajaiban dunia. Itulah yang diumumkan di Lisabon, Portugal, Sabtu (7/7) malam. Dari hasil pilihan hampir 100 juta pemilih, terpilih Taj Mahal di India, reruntuhan Pink Petra yang berusia beberapa abad di Yordania dan patung Kristus Sang Penebus di Rio de Janeiro. Terpilih pula reruntuhan Machu Picchu Inka di Peru dan Kota kuno bangsa Maya atau Chichen Itza di Meksiko. Tetap bertahan, tembok raksasa China dan Coliseum Roma.

Candi Borobudur

Sebuah yayasan swasta Swiss meluncurkan kontes tersebut Januari silam untuk memungkinkan para pemilih melalui telpon dan internet menjatuhkan pilihan. Ketujuh situs tersebut menyisihkan beberapa calon favorit, seperti Acropolis di Yunani, Menara Eiffel di Paris, Prancis dan kebanggaan bangsa Indonesia, Candi Borobudur.

Kampanye yang disponsori swasta tersebut adalah gagasan seorang pembuat film Swiss dan kurator museum, Bernard Weber. Hal ini menyusul perusakan patung patung raksasa Buddha di Bamiyan, Afghanistan, oleh Taliban pada 2001. Namun, Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Kebudayaan (UNESCO) yang menetapkan situs warisan dunia, menolak mendukung kegiatan tersebut. Hal itu dinilai sebagai hasil prakarsa pribadi dan tak memberi pengaruh besar bagi konservasi bangunan bersejarah di dunia.(BEY)

Masalah Anak, Pendidikan dan KPAI



Pandangan saya tentang anak, menggunakan berbagai sudut pandang, tetapi pada hakekatnya pandangan saya tentang anak adalah satu. Dari sudut pandang ilmu biologi, reproduksi, ilmu kesehatan anak, apalagi ilmu agama, anak itu adalah manusia yang akan meneruskan generasi manusia selanjutnya. Jika tidak ada anak, lama-lama mungkin bumi ini akan kosong dari manusia. Tetapi sebagian manusia tampaknya lupa akan hakekat anak ini. Sepanjang sejarah manusia, ada-ada saja kisah tentang penistaan anak. Pada zaman Nabi Musa dan Fir’aun, setiap anak laki-laki yang lahir harus dibunuh; pada zaman sebelum kelahiran Nabi Muhammad, justru anak perempuan yang lahir segera dibunuh. Mereka sepertinya lupa, bahwa untuk meneruskan spesies manusia di bumi ini, harus ada laki-laki dan perempuan. Pada masa-masa awal perkembangan Indonesia, anak perempuan termasuk species yang kurang dihargai, sehingga kurang mendapat pendidikan yang layak. Anak perempuan dianggap tak jauh dari urusan dapur, sumur dan kasur; sehingga dipandang tak perlu pendidikan tinggi. Padahal, kalau kaum perempuan bodoh, cara mendidik anak pasti keliru.


Saya sebagai praktisi bidang kesehatan, pusing dengan masih banyaknya anggapan di tengah masyarakat terutama para ibu hamil dan menyusui, bahwa ibu hamil dan menyusui tidak boleh memakan daging, ikan, telur, susu, dan lain-lain yang berasal dari hewan, karena nanti katanya ASI jadi amis dan bayi tidak mau minum ASI. Sementara, mulai dari janin hingga bayi berumur 2 tahun, adalah masa-masa yang sangat penting bagi pertumbuhan otak, sebagai ”processor” bagi manusia (jika diibaratkan dengan komputer). Jika dalam masa kehamilan dan menyusui bayi tersebut kurang gizi, kemungkinan besar anak itu ketika dewasa, otaknya kekurangan memori dan kemampuan komputasi. Ibarat processor komputer, otak anak itu kemampuannya hanya sekelas Pentium I, padahal zaman sekarang, processor sudah ”Quad Core” (empat inti processor dalam satu keping processor) dengan kemampuan komputasi hingga jutaan instruksi (perintah) per detik (million instruction per seconds-MIPS).


Kisah anak yang lainnya, anak-anak dijadikan ”tenaga kerja” untuk membantu orang tua, sehinggga tidak sempat mengecap pendidikan dan indahnya dunia anak. Di belahan dunia yang lain, anak-anak dijadikan prajurit untuk berperang. Bahkan ada juga kisah yang lebih memilukan, anak-anak dijadikan pelacur, bahkan dijual oleh orang tua sendiri. Yang lebih biadap lagi, bapak yang ”memakan” anak perempuannya, atau yang juga pernah terjadi, anak laki-laki menghamili ibu kandungnya. Ada-ada saja. Padahal kalau dibandingkan dengan dunia hewan, seganas-ganasnya harimau, tak pernah induk harimau memakan anaknya sendiri. Bangsa hewan tampaknya lebih baik dan lebih taat kodrat dalam memelihara garis keturunannya. Tetapi jika dibandingkan dengan negara-negara maju di belahan bumi utara dan selatan, seperti Eropa, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru, jarang terdengar kisah-kisah penelantaran anak.


Tampaknya ada hubungan (korelasi) yang kuat antara tingkat pendidikan dan ekonomi terhadap kejadian kejahatan kemanusiaan, termasuk kejahatan terhadap anak. Kejahatan kemanusiaan, khususnya kejahatan terhadap anak, sering terjadi pada masyarakat yang tergolong menengah ke bawah dilihat dari tingkat pendidikan dan ekonomi. Kalau bicara masalah, sebenarnya masalah yang dihadapi oleh negara-negara yang tergolong masih miskin seperti Indonesia, sangat banyak masalah yang dihadapi, satu di antaranya adalah masalah anak. Sulit kalau kita ingin menyelesaikan masalah hanya secara parsial. Jadi, solusi yang menyeluruh dan mendasar terhadap masalah anak adalah dengan memperbaiki pendidikan dan ekonomi bangsa ini. Jika seluruh keluarga umat manusia terpelajar dan mampu secara ekonomi, tak akan ada anak yang tidak sekolah, anak yang jadi pekerja, anak yang dijual orang tua, anak yang jadi prajurit untuk berperang, dan lain-lain. Kalau ada orang dewasa yang suka berhubungan seksual dengan anak-anak, itu bukan masalah pendidikan dan ekonomi, tetapi adalah masalah kesehatan jiwa. Orang tersebut dalam ilmu kesehatan jiwa disebut mengalami gangguan jiwa yang disebut ”pedofilia”.


Masalah lain yang juga terkait dengan pendidikan dan ekonomi adalah masalah kesehatan. Orang yang ekonominya rendah bagaimana mungkin akan menyekolahkan anaknya dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Selanjutnya orang yang berpendidikan rendah atau derajat kesehatan yang rendah, bagaimana mungkin akan mendapatkan pekerjaan yang baik yang kemudian akan memberikan penghasilan yang baik. Orang yang berpenghasilan kurang akan menjadi miskin, dan lingkaran setan kemiskinan, pendidikan dan kesehatan yang rendah, terus berulang. Pentingnya pendidikan, ekonomi dan kesehatan ini menjadikannya sebagai indikator dari Human Development Index (HDI) yang menjadi ukuran dari kemajuan suatu bangsa. Untuk urusan ini, tahun 2007 yang lalu kita berada di peringkat 107 dunia, setara dengan negara-negara miskin di Afrika, dan berada jauh di bawah Malaysia dan Singapura. Melihat sejarah perkembangan bangsa Jepang yang baru mulai sekitar tahun 1800, dengan pendekatan pembangunan sumber daya manusia melalui jalur pendidikan, yang kemudian menghasilkan negara Jepang yang memiliki kekuatan ekonomi termasuk lima besar di dunia, tampaknya bisa kita jadikan contoh.


Dengan sudut pandang bahwa pendidikan, kesehatan dan ekonomi adalah pangkal dari masalah-masalah umat manusia, menurut pendapat saya, kegiatan yang dapat dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) antara lain adalah berkampanye agar mulai dari masa kehamilan, keluarga memberikan gizi yang baik agar dihasilkan manusia yang memiliki kualitas fisik dan otak yang baik; kampanye atau penyuluhan agar keluarga memberikan pendidikan umum dan pendidikan moral (melalui pendidikan agama) yang memadai untuk anak agar dihasilkan manusia yang terdidik dan berkarakter baik. Pendekatan ini dalam bidang kesehatan bisa dikatakan pendekatan ”preventif” (pencegahan) dan ”promotif” (peningkatan). Dan bila telah terjadi kejahatan terhadap manusia, termasuk anak, berupaya agar para penegak hukum menegakkan hukum dengan benar, ini bisa disebut pendekatan ”kuratif” (pengobatan), dan pemulihan jasmani dan rohani terhadap anak tersebut, yang di bidang kesehatan dinamakan ”rehabilitatif” (pemulihan).


Bagaimana kalau ”kejahatan” tersebut terjadi pada anak di sekolah? Bicara hal ini kita akan bersinggungan dengan dunia pendidikan. Banyak hal lain yang terkait dengan dunia pendidikan seperti diatur dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada faktor guru, sarana dan pra-sarana, kurikulum, metode pembelajaran, kegiatan ekstra kurikuler atau kebijakan (policy) yang terkait dengan dunia pendidikan. Sekarang ini, masalah pendidikan di negeri ini seperti benang kusut yang tak tahu lagi mana ujung atau pangkalnya. Masing-masing ”aktor” dalam dunia pendidikan yaitu guru dan murid seolah lupa akan peran masing-masing. Guru semestinya menjalankan peran (mengutip pasal 1 ayat 1 UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen) pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sementara murid mestinya menjalankan peran (mengutip pasal 1 ayat 1 UU Sistem Pendidikan Nasional) untuk secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sekarang ini tampaknya guru dan murid hanya menjalankan sebagian peran yang semestinya dijalankan.

Sebagian diantara guru hanya menjalankan peran mengajar, dan sebagian diantara murid tidak tahu untuk apa dia belajar. Ini yang kemudian menghasilkan murid yang bising di kelas, dan guru yang memakai jurus pencak silat untuk ”menghajar” murid. Jika terjadi kejahatan terhadap anak di sekolah oleh guru, aturan mana yang mau dipakai? Apakah KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), UU Perlindungan Anak, UU Pendidikan, UU Guru dan Dosen? Guru dan stakeholder yang lain perlu duduk bersama untuk membahas masalah ini, agar masalahnya dapat diselesaikan dengan cara yang elegan, tidak merendahkan guru dan tidak pula menjahati anak.


Melihat kondisi Indonesia yang masih banyak terdapat kasus-kasus yang bertentangan dengan upaya melindungi anak, memang dipandang perlu keberadaan KPAI, mungkin sampai waktu yang tidak dapat ditentukan batasnya, karena masalah anak adalah masalah umat manusia sepanjang zaman. Cuma kalau masalah perlindungan anak ini bersentuhan dengan domain lainnya misalnya dunia pendidikan, mungkin perlu dibicarakan lagi bagaimana penyelesaiannya yang terbaik.

foto bolo kurowo






foto bolo-bolo kurowo lagi happy di tempat kukerta.